Media sosial kini sudah menjadi alat untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan. Fitur media sosial yang semakin beragam, membuat orang semakin gandrung untuk membagi segala hal, bahkan hal yang pribadi sekalipun kepada semua orang. Para pengguna media sosial ini bahkan tidak menyadari bahwa aktivitas mereka itu bisa berpengaruh pada kesehatan mental.
Dari informasi yang tercantum dalam video #StatusOfMind diketahui bahwa separuh responden menganggap Instagram—di samping Facebook—memperparah kecemasan yang dialami para penggunanya. Lebih lanjut, 7 dari 10 responden menyatakan bahwa Instagram membuat penggunanya menilai rendah gambaran tubuh mereka sendiri. Misalnya, di media sosial berbagi foto, umumnya para pengguna instagra lebih banyak memposting konten yang menunjukkan kesuksesan atau kebahagiaan tertentu atau bisa juga produk-produk tertentu.
Melihat hal ini dapat menciptakan efek cemas terhadap pengguna yang belum
memiliki, menggapai, merasakan hal yang dimiliki oleh pengguna lain. Hasil riset seorang wanita cenderung merasa cemas ketika melihat teman wanitanya terlihat bahagia dari dirinya. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan jika Instagram berpotensi memberikan efek kepercayaan diri yang rendah. Seorang perempuan atau pria biasanya memilih foto terbaik yang ia miliki. Yang menunjukkan pakaian atau tampilan fisik terbaik. Selain itu juga menunjukkan tempat-tempat tertentu yang bergengsi.
Walau media sosial ini banyak disukai karena bisa menjadi platform untuk menampilkan ekspresi diri, namun Instagram juga berkaitan dengan tingkat kecemasan yang tinggi, depresi, bullying, dan FOMO (fobia ketinggalan berita di jejaring sosial).
Dari 5 media sosial yang dimasukkan dalam survei ini, YouTube mendapat nilai tertinggi untuk kesehatan dan kesejahteraan mental. Aplikasi berbagi video ini juga satu-satunya yang mendapat nilai positif dari para responden. Twitter berada di urutan kedua, diikuti oleh Facebook, kemudian Snapchat, dan terakhir Instagram. Di lain pihak, ditemukan sisi negatif dari lima platform media sosial itu, terutama menurunnya kualitas tidur, bullying, citra tubuh, dan FOMO.
Tidak seperti YouTube, keempat media sosial lainnya terkait dengan meningkatkan depresi dan kecemasan. Penelitian sebelumnya menyebutkan, orang muda yang menghasikan waktunya lebih dari dua jam sehari untuk berselancar di media sosial cenderung mengalami tekanan psikologis.
DAFTAR PUSTAKA :
Dari informasi yang tercantum dalam video #StatusOfMind diketahui bahwa separuh responden menganggap Instagram—di samping Facebook—memperparah kecemasan yang dialami para penggunanya. Lebih lanjut, 7 dari 10 responden menyatakan bahwa Instagram membuat penggunanya menilai rendah gambaran tubuh mereka sendiri. Misalnya, di media sosial berbagi foto, umumnya para pengguna instagra lebih banyak memposting konten yang menunjukkan kesuksesan atau kebahagiaan tertentu atau bisa juga produk-produk tertentu.
Melihat hal ini dapat menciptakan efek cemas terhadap pengguna yang belum
memiliki, menggapai, merasakan hal yang dimiliki oleh pengguna lain. Hasil riset seorang wanita cenderung merasa cemas ketika melihat teman wanitanya terlihat bahagia dari dirinya. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan jika Instagram berpotensi memberikan efek kepercayaan diri yang rendah. Seorang perempuan atau pria biasanya memilih foto terbaik yang ia miliki. Yang menunjukkan pakaian atau tampilan fisik terbaik. Selain itu juga menunjukkan tempat-tempat tertentu yang bergengsi.
Walau media sosial ini banyak disukai karena bisa menjadi platform untuk menampilkan ekspresi diri, namun Instagram juga berkaitan dengan tingkat kecemasan yang tinggi, depresi, bullying, dan FOMO (fobia ketinggalan berita di jejaring sosial).
Dari 5 media sosial yang dimasukkan dalam survei ini, YouTube mendapat nilai tertinggi untuk kesehatan dan kesejahteraan mental. Aplikasi berbagi video ini juga satu-satunya yang mendapat nilai positif dari para responden. Twitter berada di urutan kedua, diikuti oleh Facebook, kemudian Snapchat, dan terakhir Instagram. Di lain pihak, ditemukan sisi negatif dari lima platform media sosial itu, terutama menurunnya kualitas tidur, bullying, citra tubuh, dan FOMO.
Tidak seperti YouTube, keempat media sosial lainnya terkait dengan meningkatkan depresi dan kecemasan. Penelitian sebelumnya menyebutkan, orang muda yang menghasikan waktunya lebih dari dua jam sehari untuk berselancar di media sosial cenderung mengalami tekanan psikologis.
DAFTAR PUSTAKA :
- https://www.idntimes.com/science/discovery/eka-supriyadi/riset-instagram-media-sosial-paling-buruk-bagi-kesehatan-mental-c1c2/full
- https://lifestyle.kompas.com/read/2017/07/14/073913720/instagram-media-sosial-paling-buruk-bagi-kesehatan-mental
- https://lifestyle.kompas.com/read/2017/07/14/073913720/instagram-media-sosial-paling-buruk-bagi-kesehatan-mental

melihat postingan kakak, saya termotivasi untuk jadi youtuber deh :))
BalasHapusWow bye bye instagram
BalasHapusWaahh baru tahu saya , makasih ya kak infonya
BalasHapusthx infonya
BalasHapusMantul
BalasHapusHapus Instagram !!! Hahahah
BalasHapusinstagram, toxic! thanks infonya
BalasHapusOtw jadi yutuber dech(:
BalasHapusAstagaaa sering gunain semua :(
BalasHapusMntul
BalasHapusWah jadi gitu yaa :(, jadi lbih tau sekarang, makasih yaa
BalasHapusOke otw hapus instagram
BalasHapusMantulll
BalasHapusMakasi infonya
BalasHapusmakasih infonya sangat menarik
BalasHapusbagus
BalasHapus